Ingatkan Polisi yang SMS-an Saat Bermotor, Mahasiswa Yogya Malah Dipukuli

Rabu, 25/08/2010 16:06 WIB

Ingatkan Polisi yang SMS-an Saat Bermotor, Mahasiswa Yogya Malah Dipukuli

Ken Yunita : detikNews

detikcom – Jakarta, Sungguh sial nasib Mashono Rio Kertonegoro. Maksud hati ingin mengingatkan seorang polisi yang sedang ber-SMS ria saat mengendarai motor, mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (UAD) itu malah dipukuli hingga babak belur. Rio harus menginap di rumah sakit empat hari.

Peristiwa itu terjadi di Jalan Wonosari Km 12,5, Bantul, DIY pada tanggal 21 Agustus lalu. Saat itu, Rio sedang mengendarai motor menuju rumahnya yang terletak di daerah Piyungan, sekitar pukul 16.30 WIB.

“Di situ banyak polisi yang habis menggelar razia itu lho. Nah salah satu polisi itu naik motor, menyeberang jalan, sambil tangan kirinya memegang handphone,” kata Rio saat berbincang dengan detikcom, Rabu (25/8/2010).

Entah polisi itu sadar atau tidak, motor yang dikendarainya itu miring-miring dan hampir menabrak motor Rio. Karena kaget, Rio langsung mengerem mendadak hingga nyaris terjatuh.

Setelah berhasil mengembalikan keseimbangan, Rio kemudian menghampiri motor polisi tersebut. Rio mencoba mengingatkan agar lain kali polisi itu tidak mengendarai motor sambil ber-SMS ria.

“Saya bilangnya baik-baik. Saya cuma bilang, kalau SMS-an sambil naik motor itu membahayakan orang,” kata Rio menirukan kata-katanya waktu itu.

Menurut Rio, polisi itu membantah dirinya sedang SMS-an. “Saya cuma lihat jam kok,” kata polisi yang memakai rompi polisi itu ditirukan Rio.

Rio mengaku tidak habis pikir dengan polisi itu. Menurutnya, polisi tersebut mengenakan jam di tangan kirinya.

“Dia kan pakai jam tangan, ngapain lihat jam di HP,” kata Rio.

Melihat Rio yang menyinggung-nyinggung jam tangannya, polisi tersebut mulai kesal. “Lha terus kenapa?” tanya polisi itu kepada Rio.

Rio yang kesal akhirnya melaporkan polisi tersebut ke komandannya yang berada di pos polisi, tidak jauh dari tempatnya bersitegang dengan polisi tadi. “Saya bilang, Pak Komandan, itu anak buah bapak kok tadi pakai handphone sambil naik motor, kan bahaya. Saya hampir tertabrak,” katanya.

Sang komandan lantas meminta Rio menunjukkan anak buahnya yang dimaksud. Tak lama, si polisi yang tadi bersitegang dengan Rio menghadap komandannya.

“Saya cuma lihat jam kok, Dan (Komandan),” begitu kata polisi itu seperti ditirukan Rio.

Rio kemudian mengatakan, polisi itu sudah memakai jam tangan. “Lagipula, kalau mau lihat jam, kenapa harus pas naik motor. Wong jarak dia naik motor sampai pos itu nggak jauh,” kata mahasiswa yang mengambil jurusan hukum itu.

Rio lalu menunjuk ke arah jam yang dipakai polisi itu di tangan kirinya. Namun tiba-tiba saja, tangannya dipegang oleh polisi itu dan disingkirkan.

“Lalu saya bilang ke komandannya, kok kasar gitu, Pak? Lalu tiba-tiba saya dipukul dari belakang oleh polisi tadi,” cerita Rio.

Rio yang kaget sekaligus kesakitan, berbalik menghadap polisi tadi. Belum sempat Rio berkata-kata, sekitar lima polisi lainnya sudah memukulinya dari belakang. Bak! Buk! Bak! Buk! Rio pun babak belur.

“Tiba-tiba saya diseret sama komandannya. Saya dibawa ke ruangan dan ruangan itu dikunci. Di dalam, saya diinterogasi, ditanyai nama, alamat dan sebagainya,” kata Rio.

Rio akhirnya diperbolehkan pulang setelah diinterogasi. Sambil menahan sakit, Rio langsung pulang menuju rumahnya. “Bapak saya langsung bilang, kita ke rumah sakit,” cerita Rio.

Rio pun dibonceng ayahnya, Sahana, menuju RS Hidayatullah di kawasan Gambiran, Yogyakarta. Di rumah sakit itu, Rio sekalian divisum.

“Pas lagi menuju rumah sakit, kami sempat dicegat oleh komandan polisi yang tadi. Tapi bapak saya diam saja, langsung pergi ke rumah sakit,” katanya.

Rio dirawat di RS Hidayatullah hingga Selasa 24 Agustus kemarin. Selain luka memar di sekujur tubuh, Rio juga sempat muntah-muntah sehingga dokter sempat menduganya gegar otak.

Kasus Rio telah dilaporkan ke Polsek Piyungan. Namun kini, kasusnya ditangani oleh Polres Bantul.

29 % Pelajar SMU di Malang Pernah Melakukan Hubungan Seks

sumber :
-KASKUS-

Malang – Gaya hidup remaja di Kabupaten Malang, Jawa Timur sungguh memperihatinkan. Dari hasil sebuah penelitian yang dilakukan oleh Konsultan Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang), sekitar 29 persen pelajar pernah melakukan hubungan suami istri.

Selain melakukan seks bebas, para pelajar SMU ini juga melakukan hubungan seks dengan saudara kandung (incest). Hasrat seks yang tinggi itu, salah satunya akibat mudahnya akses pornografi melalui internet.

Hasil penelitian dari Konsultan Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kabupaten Malang, CV Orbit Nusantara mulai bulan Juni hingga Agustus 2010 dengan mengambil 404 responden pelajar SMU di Kabupaten Malang.

“Dari 404 responden, 116 siswi atau 29 persennya pernah melakukan hubungan seks. Sebagaian besar mereka melakukannya dengan pacar. Sementara 25 siswa atau 21 persen dari 116 siswa pernah melakukan hubungan seks itu, 21 siswa adalan perempuan. Mereka melakukan dengan orang lain,” kata Hasan Abadi, peneliti CV Orbit Nusantara, kepada wartawan di Pendopo Kabupaten Malang Jalan KH Agus Salim, Jumat (27/8/2010).

Menurut Hasan, sebagian besar siswi yang terbiasa melakukan hubungan seks di luar nikah ini tinggal di kecamatan-kecamatan besar, seperti Lawang, Singosari, Kepanjen, dan Turen.

“Untuk siswi melakukan hubungan seks dengan pacar biasa terjadi saat kenaikan kelas 10 ke 11, mereka memanfaatkan libur panjang,” ujarnya.

Selain itu, lanjut Hasan, salah satu alasan lain pelajat putri melakukan hubungan seks dengan orang lain dengan jalan menjual diri, dilakukan karena motif ekonomi. Pengetahuan seks diketahui dari internet membuat mereka semakin nekat untuk melakukannya.

“Dengan hidup lebih, terhindar dari ekonomi yang pas-pasan, para siswi itu nekat menjual diri,” lanjutnya.

Yang lebih mengejutkan tambah Hasan, perilaku seks menyimpang juga dilakukan sekitar enam siswi dengan melakukan hubungan seks dengan saudara kandungnya. Hal tersebut menurutnya dipengaruhi kondisi keluarga. Salah satunya, ibu pergi bekerja menjadi TKW dan ayah kandungnya menikah kembali, membuat mereka nekat melakukan itu.

“Potret itu terjadi di Malang selatan, siswi SMU berhubungan seks dengan saudara laki-lakinya,” ungkap Hasan.

Hasan berharap, melalui hasil penelitian ini akan menjadi ukuran adanya kebijakan kurikulum muatan lokal tentang Bahaya Seks Pranikah di SMP dan SMU di Kabupaten Malang.